
Singapura memang sudah sejak lama menjadi tempat terbaik dalam dunia pendidikan. Dengan sistem pendidikan yang baik, Singapura telah menghasilkan banyak siswa siswi berprestasi. Tak hanya tingkat sekolah saja, tingkat universitas mereka juga menempati posisi tinggi di dunia. Namun kabarnya, sekarang Singapura akan mengubah pendekatannya dalam dunia pendidikan.
"Belajar bukanlah perlombaan," ungkap Menteri Pendidikan Singapura Ong Ye Kung. Ia mengatakan perubahan sistem pendidikan dilakukan untuk mencegah siswa menjadi patah semangat karena nilai jelek dan mendorong siswa untuk lebih berfokus pada pengembangan pembelajaran mereka sendiri.
Dengan dihapuskannya program diskusi, latihan soal, dan PR yang selama ini menjadi tolok ukur penilaian siswa. Dengan mengubahnya menjadi sistem penilaian dimana penilaian akan dibulatkan ke angka terdekat bukan lagi menggunakan angka desimal.
Selain itu pemerintah juga berusaha mempersiapkan generasi mudanya untuk menghadapi perubahan tantangan, khususnya ekonomi. Kebijakan baru ini bertujuan untuk mendorong perkembangan sosial di antara para siswa untuk meningkatkan kesadaran diri dan membangun keterampilan membuat keputusan.
Salah satu langkahnya adalah sekolah-sekolah tidak lagi menjadikan nilai sebagai acuan peringkat atau kelulusan dari suatu mata pelajaran, serta menghapuskan sistem KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sistem ini sangat kontras dengan apa yang berlaku di negara-negara tetangga Singapura yang masih mendewakan sistem nilai dan peringkat.
Mengubah suasana kelas seperti di tempat kerja. Kementerian Pendidikan juga memberikan bimbingan kepada para siswa untuk melihat peluang yang lebih luas diluar bidang perbankan, medis, dan PNS. Program ini memungkinkan anak-anak sekolah untuk terjun ke bidang-bidang yang lebih ekspresif seperti drama dan olahraga, serta lebih banyak area yang berfokus pada industri seperti komputer, robotika, dan elektronik.
Dalam survei yang digelar oleh Organisasi Kerjasama Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA), Singapura menempati posisi teratas, diikuti oleh Hong Kong, Jepang, dan Macau. Setiap tiga tahun OECD akan melakukan penilaian terhadap sistem pendidikan di suatu negara melalui serangkaian tes kepada anak-anak berusia 15 tahun. Tes tersebut meliputi membaca, matematika, dan sains.
Sumber : akurat.co
Komentar
Posting Komentar